Intinyaaku nggak tinggal permanen di sana (New York)," ujarnya lagi. Artikel Terkait: 10 Potret Gemas Arrasya, Anak Tasya Kamila yang Gemar Koleksi Kipas Angin. Itulah kabar dari Tasya yang akan kembali menjalani hubungan jarak jauh karena Randi Bachtiar akan S2 di luar negeri. Kita doakan saja ya agar rencananya bisa berjalan dengan lancar.
Padapertengahan tahun 2014, saya diizinkan Allah SWT untuk mengambil Cuti di Luar Tanggungan Negara (CLTN). Cuti ini saya ambil karena keinginan pribadi untuk mendampingi suami yang mendapatkan kesempatan kuliah S-3 di Australia atas beasiswa dari Australian Award Scholarship (AAS). Cuti jenis ini jarang diambil karena implikasinya berat.
4jRmb. Demi bisa berkumpul dengan suami yang bertugas di New York, saya dan janin dalam kandungan berjuang untuk mendapatkan beasiswaOleh Lusia NS 29 tahun, Ibu dari Shena 4 bulan, Member WAG Orami Newborn Moms dan Orami Working MomsKehamilan pertama saya ini benar-benar pengalaman yang luar biasa dan tidak bisa digambarkan dengan tidak luar biasa? Ketika menjalani kehamilan, saya harus terpisah jauh dari suami karena ia mendapat penempatan kerja di New York, Amerika York dan Jakarta berjarak lebih dari 16 ribu kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 22 jam perjalanan. Belum lagi perbedaan waktu 12 jam antara New York dan Jakarta yang membuat jarak saya dan suami terasa begitu Kehamilan Pertama Jauh dari SuamiFoto Pengalaman Kehamilan Pertama_LDR dengan Suami dan Berjuang Mendapatkan Orami/Lusia NSSaya dan suami menikah pada Oktober 2017. Jauh sebelum menikah, kami tahu ada risiko long distance marriage LDM dalam pernikahan kami mengingat suami memang bekerja sebagai diplomat di Kementerian Luar diplomat, dia bisa kapan saja ditugaskan di perwakilan Republik Indonesia di luar negeri. Sebagai istri yang juga bekerja, saya harus siap ditinggal suami tugas untuk waktu yang tidak saja, lima bulan setelah menikah, tepatnya pada Maret 2018, suami harus pergi untuk bertugas di luar negeri. Dia mendapat penempatan di New York, Amerika Serikat. Kami pun harus berpisah untuk sementara Mei 2018, saya mengunjungi suami di New York. Setelah satu bulan pulang dari mengunjungi suami, kira-kira di bulan Juni 2018, saya mendapat kejutan yang tidak kunjung datang dan mual yang kerap saya rasakan berbuah manis. Ketika melakukan tes kehamilan dengan test pack, dua garis merah lah yang ini menjadi kabar yang sangat membahagiakan bagi saya dan suami. Buah cinta yang menjadi harapan setiap pasangan suami istri hadir satu sisi, saya dan suami begitu berbahagia. Namun, di sisi lain ini menjadi pikiran untuk kami karena saya harus menjalani kehamilan pertama ini dengan kondisi terpisah jauh dari suami. Bukan hanya saya yang merasa ini adalah sesuatu yang berat. Suami pun merasakan hal yang tidak, dia harus berada jauh dari istri dan calon anaknya. Namun, apa mau dikata. Sebagai abdi negara, dia tentu harus menjalani tugasnya meskipun terpaksa harus jauh dari awal menikah, sebelum suami berangkat untuk penempatan, kami memang sudah berdiskusi agar saya tidak resign atau cuti di luar tanggungan negara selama tiga tahun dengan status saya sebagai ASN ketika suami ditempatkan di luar di luar tanggungan negara adalah izin panjang bisa diajukan oleh ASN dengan catatan tidak memperoleh hak keuangan sama sekali. Di luar itu, masih ada opsi lain, saya menyusul suami dengan cara melanjutkan pendidikan di kota tempat suami berdinas. Saya tidak harus resign atau cuti di luar tanggungan negara. Saya juga bisa melanjutkan pendidikan dan tentunya tetap dekat dengan pun sepakat agar saya mencoba untuk melanjutkan pendidikan S2 di New York sembari mendampingi suami di sana. Opsi ini pun tidak mudah dijalani, karena saya harus menjalani proses ini seorang diri, sementara suami saya sudah harus berangkat ke New York. Semua terasa makin berat ketika saya dinyatakan jauh dari suami, dan harus menyiapkan berbagai hal untuk melanjutkan mendidikan di New York. Semuanya betul-betul tidak menjalani trimester pertama kehamilan, saya mencoba mendaftar beberapa kampus di New York dan beberapa program Tuhan, karena dari awal memang suami saya mendukung penuh opsi ini, sehingga meskipun terpisah jauh, suami juga sangat membantu saya. Baik dalam memberikan semangat maupun membantu mengoreksi esai Juga Serunya Drama Hamil Kembar saat Si Sulung Masih BatitaPerjuangan Mencari Beasiswa ke New YorkFoto WhatsApp Image 2019-07-22 at 1.jpeg Melanjutkan pendidikan di luar negeri bukan hal mudah, terlebih untuk saya yang ingin mengambil beasiswa karena tidak mungkin saya kuliah dengan biaya sendiri. Biayanya begitu saya harus mengurus administrasi pendaftaran kampus, mulai dari mengambil tes TOEFL iBT, meminta surat rekomendasi dari dosen dan atasan saya, sampai harus menyusun esai. Saya juga harus mencari pertama mencoba mendaftar, kegagalan pun sudah saya rasakan. Ketika mencoba mendaftar di salah satu program beasiswa, yaitu Fulbright AMINEF, saya dinyatakan tidak lolos di seleksi saya, pengalaman kegagalan ini sangat menyedihkan, apa lagi tidak lolos di seleksi administrasi. Ibarat baru akan memulai peperangan sudah kalah telak. Mungkin kalau saya gagal di seleksi wawancara, saya akan lebih menerima, karena saya bisa mengevaluasi performa pengumuman penerimaan mahasiswa baru dari kampus-kampus yang saya daftar pun sungguh membuat perasaan jadi tidak karuan. Ada kampus yang dari awal sudah mengumumkan saya diterima, tapi nama kampus tersebut tidak masuk ke dalam daftar kampus pilihan untuk program beasiswa juga mendaftar di New York University yang memang masuk dalam daftar LPDP. Tapi, pengumuman hasil penerimaan mahasiswa barunya tidak kunjung ada. Saya sempat khawatir karena tidak lama lagi, pendaftaran beasiswa LPDP akan Tuhan, satu minggu sebelum penutupan pendaftaran beasiswa LPDP, saya menerima email dari New York University bahwa saya diterima di program MA in Global Affairs. Kebahagiaan saya tidak bisa diungkapkan dengan saya tidak sampai di situ. Setelah mendaptkan letter of acceptance LoA dari New York University, saya masih harus berjuang untuk mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Tanpa beasiswa itu, saya tetap tidak bisa berkuliah di seleksi beasiswa LPDP pun tidak mudah. Belajar dari pengalaman saya gagal di seleksi administrasi Fulbright, saya berusaha tidak menyepelekan seleksi tidak kembali gagal di seleksi administrasi, saya benar-benar memastikan kelengkapan dokumen serta menyusun esai dan rencana studi yang dinyatakan lolos seleksi administrasi, saya masih harus melalui seleksi substansi dan seleksi wawancara. Pada tahapan tersebut, saya harus benar-benar menyiapkan diri dengan kondisi hamil, tentunya untuk bisa belajar serius menjadi salah satu hal yang menantang. Setiap terbangun tengah malam entah karena lapar ataupun ingin buang air kecil, saya sempatkan membaca dan belajar sebelum tidur selisih waktu antara Jakarta dan New York 12 jam, sehingga setiap saya terbangun tengah malam, suami bisa menemani saya belajar melalui video call. Belum lagi lokasi tes yang jauh dan untuk mobilitas sendiri saya hanya mengandalkan taksi online karena tidak ada yang bisa saja jalani dengan ikhlas dan penuh tekad demi bisa berkumpul dengan suami di New tidak akan pernah mengkhianati usaha. Perjuangan mempersiapkan beasiswa dengan kondisi hamil dan jauh dari suami berbuah manis. Saya dinyatakan lulus semua tahapan seleksi beasiswa ternyata ini bukan akhir dari perjuangan. Masih ada tahapan lain yang harus saya lalui dengan kondisi kehamilan yang semakin dinyatakan lulus semua tahapan seleksi beasiswa, saya pun harus mengikuti orientasi di Depok. Masa orientasi itu saya jalani ketika usia kehamilan menginjak 36 minggu. Dokter kandungan dan keluarga sudah mewanti-wanti agar saya jangan terlalu Tuhan, teman-teman angkatan saya yang juga mengikuti orientasi sangat perhatian dan membantu saya. kebetulan, ada lima ibu hamil yang mengikuti masa orientasi dan saya yang usia kehamilannya paling sekarang mengingat-ingat pengalaman itu, saya cuma bisa tertawa geli sendiri. Kok bisa ya, saya hamil mandiri banget?Baca Juga Belum Rela Titip Anak di Daycare, Suami Pilih Jadi Bapak Rumah TanggaAfirmasi Positif untuk JaninFoto WhatsApp Image 2019-07-22 at Meskipun harus hidup mandiri dan melalui semua proses yang menyita pikiran dan perasaan, saya selalu berupaya memberikan afirmasi positif kepada janin di dalam malam, bahkan dari awal kehamilan, selalu menyampaikan ke janin bahwa saya bersyukur memilikinya dan kalau bukan karenanya, saya tidak mungkin dapat melalui ini pikiran atau hati sedang gundah, saya selalu mengajak janin untuk berdoa bersama. Yakin bahwa kami bisa melalui semua tantangan malam saya selalu sampaikan ke janin saya, "Halo adek, terima kasih sudah menemani Mama hari ini kerja. Terima kasih adek hari ini kooperatif sekali dan mendukung Mama beraktivitas. Mama bersyukur punya adek. Adek sehat-sehat yah".Setiap membaca pengalaman orang di internet atau mendengar pengalaman teman, masa kehamilan seolah menjadi momok yang dari mual dan muntah, lemas, pusing, susah makan, ngidam yang tidak tersalurkan, dan sebagainya. Tapi tidak bagi saya, karena rasanya saya tidak mengalami itu masih bisa bekerja seperti biasa dan bahkan bisa melalui rangkaian tes beasiswa. Puji Tuhan pengalaman kehamilan ini sangat nyaman dan Juga Ketika Daycare jadi Pilihan Satu-satunya dan Ternyata Memang yang TerbaikSuka Duka Jalani Kehamilan Tanpa SuamiFoto Pengalaman Kehamilan Pertama_LDR dengan Suami dan Berjuang Mendapatkan Orami/Lusia NSMeskipun kehamilan ini sangat nyaman, menyenangkan, dan saya terkesan kuat menjalani semuanya, tapi terkadang ada juga yang membuat saya di masa awal kehamilan, saya baper ketika melihat ibu-ibu lain ditemani suaminya melakukan kontrol kandungan ke solusi mengobati kebaperan saya, akhirnya saya meminta izin ke dokter kandungan untuk melakukan video call dengan suami selama kontrol. Tujuannya tentu saja agar saya tidak merasa hanya itu, setiap kali kontrol, ibu dan mama mertua juga ikut menemani. Bahkan terkadang ada adik ipar saya pun ikut menemani. Keluarga besar memang menyambut gembira kehadiran bayi kecil kami. ini adalah anak pertama kami dan kebetulan akan menjadi cucu pertama dari kedua pihak yang awalnya kontrol sendirian, sekarang tiap kali saya kontrol jadi yang paling ramai. Bayangkan, kontrol ke dokter kandungan ditemani ibu, mertua, kakak ipar, dan sambil video call di ruangan dengan kandungan saya juga menolong dan komunikatif. Terima kasih ya, Dok, karena sudah mengizinkan saya jadi pasien paling heboh setiap kali kontrol!Pada April 2019, bayi kecil kami lahir ke dunia di usia kandungan 38 minggu. Kami memberinya nama Shena. Kini, gadis kecil kami sudah berusia 4 bulan. Kebersamaan selama 38 minggu bersamanya menjalani kehamilan dan melahirkannya ke dunia ini menjadi momen paling berharga dalam hidup kehamilan pertama benar-benar mengajarkan banyak hal kepada saya. Pertama, bahwa hamil dan menjadi seorang ibu bukan suatu hambatan bagi seorang perempuan untuk berkembang menjadi individu yang lebih saya belajar bahwa pengalaman kehamilan adalah pengalaman pribadi setiap ibu yang tidak mungkin dibandingkan dengan pengalaman ibu sering mendapat pujian bahwa saat hamil saya sangat kuat dan mandiri. Tapi bagi saya pribadi, saya tidak mau membandingkan pengalaman kehamilan saya dengan ibu saya belajar betapa pentingnya support system yang solid bagi ibu baru. Saya tidak mungkin dapat melalui ini semua tanpa dukungan dan bantuan suami, keluarga, dokter kandungan, rekan-rekan saya, dan tentunya juga janin saya belajar tentang cinta yang tulus dari seorang Ibu. Saya takjub betapa saya sangat mencintai bayi kecil yang ada dalam kandungan ini meskipun kami belum pernah bertemu. Setiap hari rasanya selalu jatuh cinta pada bayi kecil Juga Barang Preloved untuk Si Kecil? Enggak Masalah!Satu lagi, saya mohon doanya ya, Moms, September 2019 ini saya akan memulai kuliah di New York University dan mengajak anak ke New York juga. Semoga saya dapat melanjutkan pendidikan selama dua tahun dengan lancar sekaligus dapat membesarkan anak saya dengan cerita kehamilan saya yang penuh warna. Bagaimana cerita kehamilan Moms?Copyright © 2023 Orami. All rights reserved.
Tertarik untuk kuliah di luar negeri? Prospek karir yang baik sekaligus jaringan pertemanan internasional adalah dua dari banyak hal menarik yang mampu Anda raih saat kuliah di luar negeri. Kuliah di luar negeri adalah keputusan besar. Pastinya Anda ingin mendapatkan persiapan yang matang sebelum melanjutkan pendidikan jauh dari rumah. Ikuti program pra kuliah di luar negeri di negara tujuan pilihan Anda dimana kami menjamin 100% Penerimaan di universitas partner kami yang lebih dari 250 universitas di seluruh dunia.
Kamu mau ikut suami yang akan atau sedang studi di luar negeri? Excited tentunya, bisa jadi kesempatan honeymoon kedua. Tapi jangan terlalu senang dulu ya, sebelum kamu pastikan kamu sudah menyiapkan semuanya. Ada banyak yang perlu disiapkan sebelum kamu berangkat mendampingi pasanganmu studi di luar negeri. Mulai dari mengurus Visa, mencari tempat tinggal, hingga belanja barang-barang yang perlu dibawa. Persiapan material yang demikian memang penting, tapi ada hal yang nggak kalah penting untuk kamu siapkan agar keharmonisan hidup kalian di sana tetap terjaga. Menjadi pendamping suami yang sedang studi di luar negeri itu tak semudah yang kamu kira. Penting sekali untuk memiliki pemahaman dan persiapan mental sebelum kamu pindah ke luar negeri untuk mendampingi suami. Karena jika kamu berangkat dengan mindset dan ekspektasi yang salah, maka dampaknya bisa fatal ke kehidupan rumah tangga. Sudah ada contoh pasangan-pasangan yang berpisah karena istri yang mendampingi suaminya studi salah ekspektasi. Jangan sampai ini terjadi ke kamu ya. Lalu apa saja hal yang perlu kamu pahami untuk menjaga keharmonisan rumah tangga saat mendampingi suami studi di luar negeri? Silakan simak poin-poin di bawah ini. a. Di kisah ini, suamimu tokoh utama, kamu peran pendukungnya Tujuan kamu berangkat ke luar negeri adalah untuk mendampingi pasanganmu yang akan melanjutkan studi. Tentunya kalian sepakat bahwa dengan bersama-sama, maka akan lebih baik bagi kalian berdua. Tapi yang perlu kamu pahami adalah, dalam bab kehidupan kalian yang ini, suamimu lah tokoh utamanya. Dia ada di fase yang berat, harus membagi fokus antara studi dan menjadi kepala keluarga. Studi di kampus luar negeri jelas tak sama dengan studi di universitas lokal, beban perkuliahan dan beban mental yang ditanggung lebih besar. Lain lagi jika pasanganmu harus menyambi kuliah dan bekerja di waktu yang sama. Maka peran kamu di sini sebegai pasangan adalah menyediakan support system’ baginya. Tujuan utama kamu adalah memastikan kalian melewati fase ini dengan minim drama. Untuk itu, kadang kamu perlu mengesampingkan egomu dan fokus ke apa yang suamimu butuhkan. Kamu juga harus paham jika dia tak punya banyak waktu untuk membawamu jalan-jalan, dan kalau di rumah pun dia punya banyak kerjaan. Karena kembali lagi, studi di luar negeri itu berat sekali. Oleh karena itu, sebagai pendamping yang fungsinya memberikan support, kamu harus memudahkan apa yang bisa dimudahkan, jangan justru mempersulit keadaan. Banyak-banyak bersabar, coba lebih pengertian, dan jangan mudah berkecil hati. b. Tapi, pemeran pendukung juga perlu punya story arc sendiri Meski suamimu tokoh utama dalam chapter hidup kalian saat ini, bukan berarti kamu harus total mendedikasikan seluruh jiwa raga untuk mendukungnya dan lupa memenuhi kebutuhanmu sebagai makhluk sosial juga. Justru setelah kamu selesai dengan diri sendiri lah baru kamu bisa menjadi provider support yang baik bagi suami. Jadi, di samping tugas utama menjadi pendamping suami, kamu juga perlu merawat diri. Merawat diri di sini maksudnya menjaga kesehatan jiwa dan raga. Tak hanya fisik yang fit, tapi kesehatan mental kamu juga perlu dijaga. Penting untuk punya rutinitas yang mendukungmu agar tetap produktif selagi suamimu fokus menyelesaikan studinya. Berolah raga rutin, membaca buku, menulis, atau mencoba hobi yang baru bisa membuat hari-harimu lebih penuh makna. Selain itu, jangan lupa untuk keluar dan mengeksplorasi kota, jangan hanya stay di rumah saja. Ada banyak tempat yang bisa dikunjungi di kota domisilimu yang baru. Jika kamu terbiasa bekerja sebelum ikut suami, maka kamu bisa mencari part time job kalau peraturan imigrasi mengizinkan bekerja atau volunteering opportunity yang sesuai dengan minatmu. Banyak organisasi yang mencari sukarelawan, dan ini merupakan kesempatanmu untuk bertemu orang baru yang mungkin bisa dijadikan teman. Kalau tak ingin bekerja, kamu juga bisa mendaftar kelas bahasa atau short course lainnya. Yang penting adalah kamu punya rutinitas yang memotivasi kamu untuk tetap berpikir positif dan merasa produktif. Namun, jangan sampai kamu punya terlalu banyak aktivitas sampai malah jadi tak punya waktu untuk suami ya. c. Komunikasi menjaga balance antara kamu dan dia Balance itu perlu dijaga, dan di sini komunikasi menjadi kunci. Kamu dan suami harus saling terbuka dan memiliki modus operandi rumah tangga yang disepakati bersama. Saling mengingatkan agar tak terlalu tenggelam dalam dunia masing-masing itu penting juga. Meski sama-sama sibuk, jangan lupa juga untuk menghabiskan waktu bersama. Momen tinggal di luar negeri mendampingi suami yang sedang studi bisa menjadi tantangan bagi keutuhan rumah tangga jika kamu tak membekali diri dengan persiapan mental dan penyesuaian ekspektasi. Namun, jika tantangan ini bisa kamu lalui, maka justru pengalaman hidup di luar negeri akan lebih menguatkan hubunganmu dengan suami. Dan bagaimana akhir chapter ini, yang menentukan adalah dirimu sendiri.
Halo, Scholarship Hunters! Kamu sudah berkeluarga dan ada rencana untuk kuliah di luar negeri? Ada keinginan juga untuk kuliah tapi bimbang karena faktor biaya? Kamu tidak perlu khawatir karena saat ini sudah banyak beasiswa untuk kuliah di luar negeri yang memberikan tunjangan untuk keluarga. Simak artikel ini sampai selesai ya untuk mengetahui jenis beasiswa tunjangan keluarga yang bisa kamu coba! Beasiswa Tunjangan Keluarga Pada dasarnya, masing-masing beasiswa memiliki cakupan tersendiri. Ada beasiswa yang menawarkan biaya pendidikan saja, tetapi ada pula yang cakupannya lebih luas termasuk memberi tunjangan bagi keluarga. Apabila kamu merupakan penerima sebuah beasiswa, di mana pemberi beasiswa juga menyediakan tunjangan untuk keluarga, artinya pemberi beasiswa pun memberikan biaya untuk menunjang kehidupan keluarga kamu. Baca Juga Kenapa Anda Harus Lanjut S2 dan S3? Berikut Alasannya – Schoters 5 Beasiswa Dengan Tunjangan Keluarga untuk Kuliah S-2 dan S-3 1. DAAD EPOS Beasiswa DAAD EPOS merupakan beasiswa penuh untuk kuliah S-2 atau S-3 di Jerman. Beasiswa ini memberikan fasilitas dengan cakupan sebagai berikut Uang bulanan Asuransi kesehatan dan kecelakaan Kursus Bahasa Jerman selama 6 bulan apabila perkuliahan menggunakan bahasa Jerman Tunjangan perjalanan Subsidi sewa bulanan pada situasi tertentu Tunjangan bulanan untuk anggota keluarga yang menemani pada situasi tertentu 2. LPDP Beasiswa selanjutnya adalah Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan LPDP. Beasiswa ini membiayai biaya kuliah S-2 atau S-3 di berbagai universitas dan negara sesuai ketentuan LPDP. Cakupan beasiswa ini meliputi Biaya pendaftaran SPP/tuition fee Biaya penelitian tesis/disertasi Tunjangan seminar internasional Biaya publikasi jurnal internasional Tunjangan buku Biaya transportasi Aplikasi visa/residence permit Asuransi kesehatan Biaya hidup bulanan Dana kedatangan Tunjangan keadaan darurat Tunjangan keluarga khusus untuk mahasiswa S-3 sebesar 25% dari biaya hidup bulanan 3. Beasiswa Pendidikan Indonesia BPI Selanjutnya ada Beasiswa Pendidikan Indonesia BPI yang merupakan beasiswa untuk kuliah D-4/S-1, S-2, dan S-3 di dalam maupun luar negeri. Fasilitas beasiswa ini meliputi Dana pendidikan Transportasi Aplikasi visa/izin tinggal Asuransi kesehatan Biaya hidup bulanan Tunjangan kedatangan Dana darurat Tunjangan keluarga Khusus untuk mahasiswa S-3 Baca Juga 10 Universitas Terbaik di Dunia, Cek Daftar Lengkapnya! – Schoters 4. Gates Cambridge Beasiswa lainnya adalah Beasiswa Gates Cambridge bagi calon mahasiwa S-2 dan S-3 untuk berkuliah di University of Cambridge. Cakupan beasiswa ini berupa Biaya kuliah penuh Tunjangan pemeliharaan Dana tambahan berdasarkan kebijakan dana pengembangan akademik untuk menghadiri konferensi dan perkuliahan serta tunjangan untuk keluarga 5. British Council Women in STEM Selain empat beasiswa di atas, ada Beasiswa British Council Women in STEM. Beasiswa ini diperuntukkan bagi perempuan yang menempuh pendidikan jenjang S-2 dan berasal dari Asia Tenggara, Asia Selatan, Amerika, Ukraina, Mesir, dan Turki. Selain itu jurusan kuliah yang diambil haruslah di bidang sains, teknologi, teknik dan matematika STEM. Cakupan beasiswa ini adalah sebagai berikut Tuition fee Tunjangan bulanan Biaya perjalanan dari dan ke Inggris Visa Asuransi kesehatan Dukungan khusus bagi para ibu Pre-sessional english course Nah, itulah lima beasiswa yang bisa kamu pertimbangan jika hendak kuliah ke luar negeri dan mengajak serta keluarga kamu. Namun, kamu perlu memahami detail ketentuannya karena terdapat tunjangan yang tidak diberikan kepada penerima beasiswa yang sudah berkeluarga karena sebab tertentu. Misalnya, ada beasiswa tertentu hanya akan memberikan tunjangan untuk keluarga jika salah satu di antara suami atau istri tidak sedang menerima beasiswa lain. Jika keduanya mendapatkan beasiswa maka tunjangan keluarga tidak akan diberikan kepada penerima beasiswa. Oleh karena itu, pastikan kamu membaca ketentuannya dengan cermat ya! Sudah Siap Daftar Beasiswa Tunjangan Keluarga Incaran Kamu? Setelah mengetahui jenis beasiswanya, beasiswa mana yang ingin kamu coba? -> Dapatkan rekomendasi program terbaik dari konsultan experts Schoters untuk mempersiapkan kamu meraih beasiswa incaran kamu! Sedang merasa bahwa persiapan kuliah ke luar negeri belum matang? -> Temukan program yang paling sesuai dengan kebutuhan kamu di sini!
Jakarta - Bunda yang bekerja tentu ingin selalu mendampingi anak dalam dunia pendidikannya. Ada beberapa tips yang bisa Bunda lakukan agar tetap mengetahui perkembangan mereka, lho. Menjadi Bunda yang bekerja memang bukan hal yang mudah. Bunda tetap harus bisa menyeimbangkan urusan pekerjaan, mengurus rumah tangga, suami, serta memantau perkembangan Si Kecil. Ketika Bunda memutuskan untuk bekerja, terkadang Bunda akan lepas kendali dan kehilangan waktu bersama Si Kecil. Untuk itu, Bunda perlu membagi waktu sebaik-baiknya agar kebersamaan dengan anak tetap terpenuhi. ADVERTISEMENT SCROLL TO RESUME CONTENT Bunda bekerja tetap bisa mendampingi dan memantau perkembangan anak selama di sekolah. Namun, ada beberapa hal yang perlu Bunda perhatikan. Menilik dari laman She Knows, ada beberapa tips yang bisa Bunda lakukan untuk memantau perkembangan anak di sekolah meski sibuk bekerja. Berikut ini deretannya 1. Kenali guru anak Menurut seorang konsultan pendidikan, Angela Norton Tyler, kurangnya komunikasi dengan guru bisa menjadi salah satu masalah besar orang tua dalam memantau kemajuan anak. Karena itu, pastikan Bunda dan guru Si Kecil selalu berkomunikasi dengan baik. "Kurangnya komunikasi dengan guru adalah salah satu masalah terbesar yang dihadapi orang tua dalam memantau kemajuan pendidikan anak mereka," ungkapnya. Guru merupakan rekan Bunda dalam mendidik anak. Kalau Bunda sibuk bekerja dan sulit bertemu langsung dengan guru, Bunda bisa menghubungi mereka melalui email atau panggilan telpon. 2. Periksa tas sekolah anak Ketika waktu Bunda sudah sedikit senggang, Bunda bisa periksa tas sekolah anak. Kosongkan ranselnya di hari itu dan lihat apa yang ada di dalamnya. Buka juga buku catatan, tugas, serta pekerjaan rumah yang telah mereka kerjakan. Jika anak menerima surat edaran atau informasi lainnya, tempelkan dengan jelas di lemari belajarnya. "Bantu anak memetakan minggu ini, terutama jika ada aktivitas lain yang sedang berlangsung," saran guru di sekolah menengah, Hilary Morris. Klik baca halaman berikutnya untuk melihat tips lainnya yuk, Bunda. Bunda ingin membeli produk kesehatan dan kebutuhan untuk anak. Langsung aja yuk, Bun klik di sini. Saksikan lagi video tanda anak depresi jelang ujian berikut ini [GambasVideo Haibunda]
mendampingi suami kuliah di luar negeri